ππ¨π§πππ‘ππ§ ππ’π€ππ’π₯ lahir di Tangerang pada 18 Februari 1994. Ia termasuk salah satu anak yang beruntung bisa tumbuh besar di dalam keluarga yang hangat dan harmonis. Masa kecilnya terbilang tenang dan nyaman, sebelum akhirnya sebuah perubahan besar datang saat ia menginjak usia remaja.
Pada usia 14 tahun, Jonathan resmi menjadi seorang kakak. Kehadiran sang adik ternyata sempat membuat dunianya jungkir balik. Kurang tidur dan lelah karena ikut mengurus bayi membuat emosi remaja Jonathan naik turun; ia sempat jadi gampang stres dan kurang sabaran. Namun di sisi lain, momen repot inilah yang justru membentuk karakternya. Karena dituntut serba cepat dalam membantu orang tua, Jonathan tumbuh menjadi pribadi yang sangat cekatan dan paham betul cara menghargai waktu.
Karakter "gerak cepat" itu terbawa sampai ia masuk ke dunia kerja. Jonathan bukan tipe pekerja yang suka menunda-nunda; ia selalu menyelesaikan tugasnya dengan efisien dan tepat sasaran. Etos kerja inilah yang membuat performanya menonjol, hingga mengantarkannya naik jabatan dalam waktu yang terhitung cepat.
Di kantor, Jonathan dikenal sebagai sosok yang perfeksionis. Karena ritme kerjanya yang cepat, ia cenderung kurang sabar menghadapi rekan kerja yang hobi mengulang kesalahan mendasar. Ditambah lagi dengan gaya bicaranya yang bermulut tajam dan penuh sarkasme dibalut candaan, Jonathan pun menjadi figur yang cukup disegani di lingkungan kerjanya.
Saat ini, Jonathan memegang posisi sebagai Finance Supervisor di sebuah perusahaan digital agency multinasional. Menariknya, ia tidak hanya sibuk berkutat dengan urusan angka dan laporan keuangan. Berkat modal visualnya yang rupawan, Jonathan juga sering "ditarik" oleh kantornya untuk menjadi talent dalam berbagai proyek kampanye digital milik klien-klien agensi tempatnya bekerja.
Keluarganya
Papi dan Mami Jonathan menikah pada tahun 1992. Saat itu, usia Papi masih 23 tahun dan Mami 21 tahun, yang masih dianggap biasa jika menikah muda pada zamannya. Berlatar pendidikan yang baik, Papi mendapatkan pekerjaan yang layak pula untuk menghidupi keluarga kecilnya, walaupun nominalnya belum besar. Pun, Mami juga masih membantu menjaga toko obat milik keluarganya untuk menambah pemasukan.
Kepala keluarga yang berambisi untuk mendapatkan jabatan yang lebih tinggi menghabiskan waktunya untuk bekerja sampai malam. Hasilnya memang tidak berkhianat, namun waktu untuk anaknya sangat banyak terlewatkan. Hanya Amah, ibu dari Mami, yang menemani tumbuh kembang Jonathan sampai akhirnya menghembuskan napas terakhirnya saat Jonathan baru saja mau memasuki SD.
Jonathan jelas terpukul atas kepergian orang tercinta yang selama ini membersamainya. Walau terlihat baik-baik saja karena masih bisa main dengan teman sekolahnya, Jonathan juga sering diam di depan kursi di mana Amah selalu duduk di sana sambil menonton TV. Beberapa menit setelahnya, raut wajah Jonathan berubah murung. Matanya berkaca-kaca karena menahan tangis. Qiuqiunya (adik dari mami) pernah berpesan untuk tidak menangis jika tidak mau Amah sedih dan tak bisa naik ke Surga.
βToko obat biar adikku yang jaga, deh. Aku mau lebih banyak di rumah nemenin Jojo.β Ucap Mami lirih setelah memastikan Jojo terlelap malam itu. Tanpa pikir panjang, Papi juga setuju. Memang harus ada yang menemani anaknya dan juga mengurus rumah setelah semua itu tak bisa lagi dilakukan oleh mendiang mertuanya. Keduanya juga khawatir Jonathan masih terguncang akan kepergian Amah.
Keputusan yang sudah disepakati berdua membuat Papi bekerja dengan giat. Jabatannya dinaikkan, begitu pula dengan gajinya. Dirasa sudah sanggup menghidupi satu jiwa lagi, anggota keluarga mereka bertambah satu pada tahun 2008. Anak laki-laki, diberi nama Jason Raphael. Walau usianya terpaut jauh, Jonathan sangat menyayangi adiknya. Mungkin karena sudah berumur 7, Jonathan sudah lebih siap menjadi seorang kakak sehingga mereka jarang bertengkar.
Jason, βanakβ Jonathan
Punya adik di usia remaja bukan hal yang mudah untuk Jonathan. Gengsi selangit di fase remaja membuatnya enggan, bingung juga, untuk mengekspresikan perasaan senangnya ketika ia mengetahui bahwa dirinya akan punya adik. Atau lebih tepatnya, apakah benar Jonathan senang akan kehadiran seorang adik di saat dia seharusnya mencari jati diri?
Jonathan baru mengerti istilah baby blues ketika usianya seperempat abad, kini bisa dibilang yang terkena baby blues mungkin tak hanya hanya orang tua dari bayi itu saja, tapi sepertinya ia mengalaminya juga saat itu. Jam tidurnya terganggu, membuat emosinya jadi naik turun walau Jonathan tak masalah harus membantu mami papi mengurus Jason sepanjang masa sekolahnya itu. Akibatnya, Jason jadi menempel padanya dan tak jarang juga teman-temannya meledek Jason sebagai anaknya. Anak kampret, menurut Jonathan.
Biar begitu, Jonathan sangat menyayangi adiknya. Mungkin bukan dengan cara yang penuh afeksi seperti mami, tapi lebih ke cara yang mendidik dengan kata-kata dan memberi contoh untuknya.